Puasa Sebagai Sarana Menyucikan Diri dan Mengasah Kepedulian Sosial
*) Oleh Muhammad Zaini
23 Februari 2026, 08.50 Wib. Artikel
Puasa merupakan salah satu ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Ia tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah proses spiritual yang menyentuh dimensi terdalam manusia. Dalam puasa, seorang mukmin dilatih untuk menghadirkan keikhlasan, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan empati terhadap sesama. Karena itu, puasa menjadi ibadah yang memadukan antara hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan lingkungan sosialnya.
Pertama, puasa sebagai ibadah istimewa terlihat dari sifatnya yang sangat personal. Berbeda dengan ibadah lain yang mudah terlihat secara lahiriah, puasa hanya benar-benar diketahui oleh pelakunya dan Allah Swt. Seseorang bisa saja tampak berpuasa, namun hakikat puasanya bergantung pada kejujuran dan keikhlasan hati. Keistimewaan ini menjadikan puasa sebagai ibadah yang mendidik ketulusan, karena motivasinya murni untuk penghambaan, bukan pencitraan. Dalam puasa, seorang mukmin belajar menata niat dan memperkuat kesadaran bahwa seluruh amal ibadah sejatinya tertuju kepada Allah semata.
Kedua, selain sebagai ibadah istimewa, puasa juga berfungsi sebagai perisai dari perbuatan keji dan munkar. Ketika seseorang berpuasa, ia dilatih untuk menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan kotor, amarah, kebohongan, dan segala bentuk perilaku tercela. Proses pengendalian diri ini membentuk karakter sabar dan disiplin. Lapar dan dahaga yang dirasakan mengingatkan manusia akan kelemahannya, sehingga menumbuhkan sikap rendah hati. Dengan jiwa yang lebih terkendali, dorongan untuk melakukan perbuatan keji pun semakin berkurang. Puasa, dengan demikian, menjadi benteng moral yang menjaga kesucian perilaku seorang mukmin dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh lagi, keberhasilan puasa sebagai perisai akhlak tidak berhenti pada waktu tertentu saja. Nilai-nilai yang dilatih selama puasa seharusnya berlanjut setelahnya. Seseorang yang benar-benar memahami makna puasa akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih santun dalam berbicara, dan lebih bijak dalam bersikap. Inilah bukti bahwa puasa bukan ritual sesaat, melainkan sarana pembinaan akhlak jangka panjang yang membentuk kepribadian mulia.
Ketiga, puasa berfungsi sebagai upaya peningkatan kepekaan sosial. Rasa lapar yang dirasakan selama puasa membuka mata dan hati terhadap realitas penderitaan orang-orang yang hidup dalam kekurangan. Apa yang biasanya mudah didapatkan seperti, makanan dan minuman, terasa menjadi sangat berharga. Dari sini tumbuh empati dan kepedulian terhadap fakir miskin, anak yatim, dan kelompok rentan lainnya. Puasa mengajarkan bahwa kenikmatan hidup tidak boleh dinikmati sendiri, melainkan harus dibagi bersama.
Kepekaan sosial ini kemudian mendorong lahirnya perilaku dermawan, suka berbagi, dan ringan tangan dalam membantu sesama. Semangat memberi makan orang yang berpuasa, memperbanyak sedekah, dan mempererat silaturahmi adalah wujud nyata dari nilai sosial puasa. Dengan demikian, puasa dapat memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah, dan juga memperkuat hubungan horizontal antarmanusia.
Jika dicermati secara menyeluruh, puasa adalah ibadah yang menyatukan ketiga aspek tersebut secara integral. Keistimewaan puasa menumbuhkan keikhlasan, pengendalian diri menjadikannya perisai dari perbuatan keji, dan rasa lapar melahirkan kepekaan sosial. Ketiganya saling terkait dan saling menguatkan, membentuk pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan peduli terhadap sesama. Dengan kata lain, puasa membentuk manusia soleh secara spiritual, dan juga soleh secara sosial.
*) Muhammad Zaini adalah, guru SD Negeri Candi Burung 2 Proppo Pamekasan